9/23/2010

Sang Pencerah (2010)



Sang Pencerah
Hanung Bramantyo, Indonesia, 2010
Color/Biopic

    Yogyakarta, akhir tahun 1800-an. Beberapa bocah desa dengan ragu mendekati sebuah langgar sederhana. Mereka datang kesana untuk belajar agama, untuk mengaji. Namun alih-alih mendengar suara orang pengajian, mereka malah disambut dengan suara gesekan biola yang jelas-jelas keluar dari dalam langgar. Kyai sableng, begitu yang ada dipikiran mereka. Bukankah biola itu diciptakan oleh orang barat, orang-orang kafir? Kyai macam apa yang memainkan musik orang kafir disela-sela pengajian?
    Di dalam langgar, seorang Kyai muda yang telah berhenti memainkan biolanya memanggil para bocah untuk masuk. "Mau belajar soal apa?" tanya sang Kyai.
    Bocah-bocah desa itu saling menatap satu sama lain kebingungan. Ini pertama kalinya mereka mengaji di sana, mengaji pada Kyai yang katanya baru saja pulang menuntut ilmu dari Arab. Di tempat lain, biasanya Kyai lah yang memutuskan soal pelajaran, tapi di sini justru berbeda.
    Salah satu bocah mengacungkan tangannya, "agama itu apa sih, Pak Kyai?" tanya si bocah.
   Sang Kyai tersenyum mendengar pertanyaan itu, lantas dengan tenang kembali memainkan biolanya. Para bocah itu kembali bertatapan dengan wajah bingung. Ini Kyai gimana, sih? pikir mereka. Dikasih pertanyaan bukannya dijawab, malah asik main biola. Tapi mereka tak berani protes. Mau tak mau mereka terpaksa mendengarkan, untuk lantas ikut menikmati permainan biola yang indah dari sang Kyai.
    "Bagaimana rasanya?" tanya sang Kyai pada mereka, setelah ia menyelesaikan permainan biolanya.
    "Ngantuk." jawab salah satu bocah, yang lantas dicibir kawan-kawannya. Sang Kyai tertawa mendengar jawaban polos si Bocah.
    "Indah, Pak Kyai," jawab bocah yang lain. "Merdu. Rasanya seperti mimpi... Tentram," lanjutnya, yang lantas diiyakan oleh kawan-kawannya.
    Sang Kyai kembali tersenyum, lantas berujar, "Nah, itulah yang disebut agama."

Dewasa ini permasalahan agama adalah masalah yang pelik. Perbedaan paham yang mengatas namakan agama kian menjadi-jadi; perang, terorisme, pembakaran kitab suci, organisasi keagamaan yang berbuat seenak jidatnya atas nama agama yang dianutnya. Masalah-masalah ini--yang niat awalnya untuk membela--justru malah menghilangkan nilai-nilai kehidupan beragama. Saya sendiri seringkali menemukan diri mengkhayalkan apa yang dulu John Lennon mimpikan lewat lagunya, Imagine: "Imagine there's no countries. It isn't hard to do. Nothing to kill or die for. And no religion too." Duh, andai saja perbedaan agama itu tidak ada. Bukankah dunia akan lebih damai? Kita--seperti juga Lennon--boleh saja bermimpi, tapi toh agama itu sudah jelas-jelas ada, dan perbedaan karenanya tentu saja mau-tak-mau muncul dengan sendirinya. Lagipula kesalahan dan masalah-masalah yang pelik ini bukan bersumber dari agama manapun, namun justru dari umat-umat yang salah memahami agamanya. Dan ini jadi tugas kita masing-masing untuk meluruskannya.


Film boleh jadi medium seni yang paling mudah untuk mempengaruhi budaya, gaya hidup dan idealisme masyarakat. “Cinema is the most beautiful fraud in the world.” sahut Jean-Luc Godard, dan itu boleh jadi benar. Lewat medium film, manipulasi bisa diciptakan dengan mudah--tak hanya mudah, namun juga meyakinkan dan menarik. Bahkan diktator macam Hitler pun mengetahui itu, coba tengok film  propaganda Nazi "Triumph of the Will" (Leni Riefenstahl, 1935).

Sebagai seorang sineas, Hanung Bramantyo tampaknya tahu betul soal kelebihan medium seni yang dikuasainya. Lebih dari itu, Hanung sendiri tampaknya tahu betul bahwa masyarakat Indonesia ini butuh role model. Butuh seorang pahlawan yang bisa dijadikan contoh dan panutan. Dan bila kita mau menyingkap sejarah, maka Kyai Haji Ahmad Dahlan boleh jadi salah seorang seorang panutan yang sempurna.


 Darwis (Ihsan Idol) adalah pemuda yang kritis. Ia mencintai agamanya, dan karena itulah ia rela pergi mendalami agama ke Mekah. Di sana ia mendapat nama baru, Ahmad Dahlan. Ia memakai nama tersebut, lantas pulang kembali ke kampung halaman untuk membagikan ilmunya. Dahlan (Lukman Sardi) gelisah dengan pelaksanaan syariat Islam yang cenderung melenceng di kampungnya. Dimulai dari Langgar kecilnya, Ahmad Dahlan memulai pergerakan--termasuk merubah arah kiblat yang melenceng di Mesjid Besar. Ini bukan hal yang mudah, Dahlan harus berurusan dengan Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) dan pengikutnya seperti Kyai Noor (Agus Kuncoro). Kyai Penghulu justru merasa Dahlan lah yang telah menyesatkan ajaran Islam. Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Namun Dahlan tidak patah arang. Dengan ditemani isterinya, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan kelima muridnya yang setia, Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.

"Sang Pencerah" adalah film yang sangat bagus. Saya sendiri berani menyebutkan bahwa ini adalah karya terbaik Hanung sejauh ini. Film Hanung yang paling ambisius, dan boleh jadi paling personal. Ketara sekali usaha keras Hanung yang tampaknya selama bertahun-tahun memimpikan film ini untuk dibuat. Bukan hanya usaha--tapi keberaniannya juga terlihat. Bukan hal yang mudah membuat film dengan tema keagamaan seperti ini. Walau Hanung sendiri pernah tercatat membuat beberapa film dengan tema sentral agama lainnya, seperti "Perempuan Berkalung Sorban" (2009) dan "Ayat-Ayat Cinta" (2008), namun "Sang Pencerah" jelas-jelas punya bahasan yang lebih luas dan dalam. Ini tugas yang berat, kita bukan hanya berbicara soal agama di sini, namun juga soal sejarah, soal tokoh pahlawan bangsa.

Dalam konteksnya, film ini juga mempunyai keaktualitasan. Walau bersetting akhir tahun 1800-an dan awal 1900-an, banyak momen dan karakter yang lucunya masih sering kita temui di masa seperti sekarang ini. Coba tengok satu scene saat para pengikut Kyai Penghulu berbondong-bondong merubuhkan langgar Dahlan dengan paksa. Bukankah mengingatkan kita dengan perilaku organisasi keagamaan yang sekarang ini begitu merajalela? Atau coba lihat karakter-karakter pengikut Kyai Penghulu yang menolak menelaah kembali agamanya. Dibutakan ajaran-ajaran dasar tanpa mau lagi mendalaminya. Bukankah kita kadung familiar dengan karakter-karakter macam itu? Atau boleh jadi kita sendiri masih seperti itu?

Lewat kostum, seting dan sedikit bantuan CGI, Hanung bersama Cinematographernya berhasil membangkitkan kembali nuansa Jogja tempo dulu--lengkap dengan scoring yang menarik (walau di beberapa bagian terasa sedikit berlebihan). Lihat juga bagaimana Hanung memasukan footage-footage lama kerumunan haji yang berkumpul di Ka'bah, lantas dengan cukup halus memadukannya ke dalam film. Ihsan Idol (Ya, penyanyi yang memenangkan acara Indonesian Idol itu), secara mengejutkan bermain cukup baik sebagai Dahlan muda. Saat Lukman Sardi memainkan Dahlan dewasa yang tenang dan bijaksana, Ihsan justru bermain sebagai Dahlan muda yang berapi-api, selalu penasaran dan terkadang terlihat badung, dan bagi saya itu keputusan tepat. Banyak karakter-karakter menarik di sini. Ada Joshua dan Giring Nidji yang berperan sebagai murid Dahlan. Ada Dennis Adhiswara yang kembali mencuri perhatian dengan peran konyolnya, lengkap dengan dialog-dialog lucu dengan penempatan yang pas. Dan yang menarik ada Agus Kuncoro yang memerankan Kyai Noor, orang yang nampak sebagai penengah. Kyai Noor boleh jadi setuju dan kagum dengan kepandaian dan ajaran Dahlan, namun di sisi lain tidak berani menentang ajaran Mesjid Besar.

"Sang Pencerah" tidak lantas menjadi tontonan yang sempurna. Tapi mungkin salah satu yang terbaik yang bisa kita dapatkan dari industri film negeri ini yang masih meraba. Mereka yang cukup mengerti seluk beluk dunia sinema mungkin akan menghargai film ini karena kualitasnya yang baik. Dan mereka (kebanyakan orang Indonesia) yang selalu mencari film dengan pesan moral yang mendalam juga semoga akan terpuaskan.

Kyai Haji Ahmad Dahlan bukanlah Nabi. Bukan juga orang yang pantas kita puja-puja. Dahlan bukan orang yang sempurna, dan kekurangannya juga diperlihatkan lewat beberapa momen di film ini. Namun kekurangan-kekurangan itulah yang menjadikannya manusia. Manusia biasa yang berusaha dengan sebaiknya demi mempertahankan nilai-nilai yang ia percayai. Bukankah manusia macam itu yang kita butuhkan sekarang ini?

2 comments:

tha said...

setuju.... sayang ga masuk ffi

berkunjung ke blogku yaa

www.bencotituartha.blogspot.com ^_^

Dewi Aja said...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi movies menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

Post a Comment