9/02/2010

Crumb (1994)


Crumb
Terry Zwigoff, USA, 1994
119 min/Color/Documentary

"If I don't draw for a while, I get really crazy. I start feeling depressed and suicidal if I don't get to draw. But then sometimes when I'm drawing, I feel suicidal too." -Robert Crumb

Kita seringkali mendengar cerita-cerita aneh tentang kehidupan para seniman-seniman hebat. Siapapun mereka --- pelukis, penyair, atau dalam kasus ini, komikus --- kita kadung hafal dengan cerita-cerita yang menyelimuti keajaiban dan kegilaan perilaku-peilakunya. Tapi di sisi lain, tentu saja hal yang bodoh jika beranggapan seniman yang baik adalah mereka yang mempunyai kelakuan menyimpang. Toh, dalam dunia seni, kegilaan dan kejeniusan seringkali sangat sulit dibedakan. Ambil contoh Robert Crumb. Ia adalah seorang legenda, orang yang disebut-sebut sebagai komikus terbaik pada masanya. Bahkan di film ini kita sendiri mendengar Robert Hughes, seorang kritikus seni dari Time magazine menyebutnya sebagai "the Brueghel of the last half of the 20th century." Robert Crumb mungkin adalah seorang jenius, namun lewat film ini, kita sendiri menyadari bahwa ia juga seorang pria yang tengah berjuang mempertahankan kewarasannya.


"Crumb," adalah salah satu film dokumenter terbaik tentang kehidupan seorang pekerja seni, bercerita tentang komikus Robert Crumb dan keluarganya. Tipikal keluarga kelas menengah Amerika yang mungkin akan tampak normal jika kita melihat lembaran foto kelurga mereka yang terpampang. Ini jenis film yang akan membuat kita terkadang menggeleng tidak percaya, saat setiap momen-momennya kita saksikan dengan penuh kejujuran untuk lantas kita telan bulat-bulat. Lewat film ini, kita juga bisa melihat apa yang membuat Robert Crumb dapat bertahan hidup, dan apa yang membuatnya bisa meraih kesuksesan sementara dua orang saudara laki-lakinya dalam keterasingan.

Beruntung sekali bagaimana kisah macam ini bisa terekam ke dalam sebuah film. Bukan hal yang mudah membuat sebuah dokumenter dengan tokoh sentral seniman aneh macam Robert Crumb. Toh orang-orang macam Robert biasanya tak mau kehidupan pribadinya diketahui banyak orang. Dokumenter ini disutradarai Terry Zwigoff, sutradara yang lebih dikenal lewat film cult hits-nya seperti "Ghost World" (2003) dan "Art School Confidential" (2006). Zwigoff telah mengenal Robert dengan cukup baik selama bertahun-tahun, dan saat membuat film ini, Zwigoff sendiri sedang mengalami depresi hebat yang membuatnya memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Dua hal itulah yang mungkin membuat Robert Crumb akhirnya mempersilahkan Zwigoff untuk membuat dokumenter ini.


Dokumenter ini tidak lantas dipenuhi dengan tetek bengek tentang dunia komik, walau boleh jadi kita bisa melihat karya-karya Robert lewat sisi yang lain. Kesuksesan Robert sendiri sebagai seorang komikus tak perlu lagi diragukan. Karya-karya ilustrasinya dan komik-komik ciptaannya di tahun 60an dan 70an seperti "Keep on Truckin" dan "Fritz the Cat" sampai saat ini masih diburu para pencinta komik dan dijual dengan harga tinggi. Karya-karya terbarunya dipajang di galeri-galeri dan menjadi koleksi seni yang penting. Namun "Crumb" sendiri bukan semata-mata tentang seni. Ini adalah film tentang seorang seniman, yang tumbuh dalam kaluarga yang mari kita sebut saja dysfunctional. Keluarga Crumb di kepalai oleh seorang ayah yang depresif, bully, dan meminjam kalimat kakak tertua Robert, "an overbearing tyrant." Robert mempunyai dua orang saudara laki-laki, Charles dan Max. Charles, kakak tertua Robert, adalah seorang penyendiri yang nyaris tak pernah meninggalkan rumah dan hanya menghabiskan waktunya di kamar bersama tumpukan koleksi novel-novelnya. Tak jauh berbeda, Max yang tinggal di San Francisco juga seorang penyendiri yang menghabiskan hari di apartemennya dengan melukis dan bermeditasi di atas ranjang paku. Robert juga mempunyai dua orang saudara perempuan yang sayangnya tidak bersedia untuk ikut bagian dalam dokumenter ini.

Di masa kecil dan remajanya; Robert, Charles dan Max adalah para pecundang. Mereka di-bully di sekolah, dan lantas pulang ke rumah untuk kemudian mendapat tekanan dari perlakuan keras ayah mereka. Ketiga bersaudara ini hanya bisa mendapat kesenangan dari fantasi-fantasi mereka sendiri. Charles lah yang pertama kali mempunyai kegemaran menggambar komik, untuk kemudian ditiru Robert. Mereka berdua tampak mempunyai ketertarikan yang sangat dalam terhadap dunia komik. Bahkan kita lantas mengetahui bahwa Robert seringkali bermasturasi sambil melihat komik, terutama komik buatannya sendiri. Robert mempunyai perilaku seksual yang menyimpang. Kita juga mengetahui bahwa sewaktu kecil ia mempunyai ketertarikan seksual yang aneh terhadap Bugs Bunny.

Dalam dokumenter ini, orang-orang di sekitar Robert tampak berbicara belak-belakan tentang dirinya, temasuk saudra-saudaranya, ibunya, anak-anaknya, dan istrinya, Aline, yang membeberkan nyaris semua perilaku menyimpang suaminya. Tentu saja sebagian besar kehidupan Robert kita ketahui dari Robert sendiri. Menarik juga bagaimana kita bisa melihat betapa dekatnya karya-karya Robert dengan kehidupan pribadinya; di dalam komiknya kita biasa melihat karakter-karakter pria yang aneh dan gemar digendong oleh wanita-wanita dengan bokong yang besar, lalu kemudian di beberapa momen kita melihat Robert melakukan hal yang sama.


Menonton film ini kita akan merasa bahwa nyaris tak ada satupun rahasia yang tak terkuak. Kita tahu bahwa Robert mengalami ereksi pertamanya di umur 4 tahun; kita tahu bahwa Charles di usia tuanya masih seorang perjaka, dan fantasi seksualnya hanya tertumpah untuk Bobby Driscoll, seorang bocah yang membintangi film "Treasure Island" (Byron Haskin, 1950); kita mengetahui bahwa Max mengisolasi dirinya di sebuah apartemen dan terkadang keluar rumah untuk melakukan pelecehan seksual di jalanan; Kita juga mengetahui bahwa orang tua mereka sering melakukan pertengkaran hingga terkadang sang ayah terpaksa pergi bekerja dengan wajah penuh luka akibat cakaran sang istri.

Inilah yang membuat "Crumb" sangat menarik dan berbeda dibandingkan dokumenter sejenis lainnya. Zwigoff membawa kita memasuki areal paling intim, bukan hanya perihal kehidupan Robert, namun juga kehidupan keluarganya. Dan tentu saja, kita juga diperkenalkan dengan karya-karya Robert Crumb lewat sudut pandang yang berbeda. Karya-karya yang menurut Robert sendiri, boleh jadi telah menyelamatkan hidupnya.

Trailer for "Crumb" (Terry Zwigoff, 1994):



2 comments:

Rijon said...

Dokumenter ya? Wah jadi pingin nonton setelah baca review ini.
:D

tha said...

weits.. seru nih kyknya...

Post a Comment